Risalah FOMC The Fed: Ketidakpastian geopolitik geser arah kebijakan moneter AS
Risalah FOMC The Fed menunjukkan ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah, mempengaruhi kebijakan moneter AS dengan risiko inflasi dan ekonomi.
Risalah FOMC The Fed menunjukkan ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik Timur Tengah, mempengaruhi kebijakan moneter AS dengan risiko inflasi dan ekonomi.
Harga buyback emas Antam turun Rp55.000 ke Rp2.610.000 pada 20 Maret 2026, menjauh dari rekor tertinggi Januari. Penurunan dipicu perang Iran dan harga minyak.
Ketegangan AS-Israel vs Iran dorong saham migas AKRA, ELSA, ENRG naik, meski IHSG turun 1,82%. Sektor energi dan logam mulia jadi defensif utama.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, mendorong pemangkasan suku bunga pada Desember 2025 karena pelemahan pasar tenaga kerja AS dan tekanan pada konsumen.
The Fed khawatir akan pelemahan pasar tenaga kerja AS, tetapi pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember belum pasti.
The Fed diperkirakan memangkas suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja yang melemah, meski inflasi masih menjadi kekhawatiran utama.
The Fed diprediksi memangkas suku bunga 25 bps pada Oktober dan Desember 2025, fokus pada pasar tenaga kerja meski inflasi tinggi. Ekonom terbelah soal suku bunga 2026.
Dolar AS jatuh ke level terendah 4 tahun terhadap euro menjelang keputusan Fed, dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga 25 basis poin.
Presiden Fed New York, John Williams, sinyalkan pemangkasan suku bunga seiring waktu, fokus pada keseimbangan inflasi dan ketenagakerjaan.
Ketua The Fed, Jerome Powell, sinyalkan pemangkasan suku bunga pada September 2025 karena risiko pasar tenaga kerja, meski inflasi tetap jadi perhatian.