Pasar saham negara berkembang tertekan, MSCI emerging markets turun lebih dari 10%
Pasar saham negara berkembang tertekan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan MSCI Emerging Markets turun lebih dari 10% dan mata uang melemah.
Pasar saham negara berkembang tertekan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan MSCI Emerging Markets turun lebih dari 10% dan mata uang melemah.
Harga emas di pasar spot stabil setelah mencatatkan lonjakan 2%. Pelaku pasar mencermati kebijakan The Fed dan negosiasi AS-Iran.
Dolar AS menguat karena spekulasi The Fed tidak akan memangkas suku bunga sebanyak yang diharapkan, meski tekanan dari kebijakan Trump masih ada.
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski menguat, rupiah diprediksi melemah hingga Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026.
Rupiah melemah ke Rp16.957 per dolar AS jelang pengumuman BI Rate. Ekonom prediksi BI tahan suku bunga di 4,75% untuk stabilkan nilai tukar dan inflasi.
Awal Januari 2026, investor asing jual neto Rp1,38 triliun di SBN, meski total modal asing masuk Rp1,44 triliun.
Rupiah menguat ke Rp16.667 per dolar AS setelah The Fed menurunkan suku bunga 25 bps. Penguatan juga dialami mata uang Asia lainnya.
Pasar kripto diproyeksikan mendapat dorongan dari penghentian kebijakan QT The Fed pada 1 Desember 2025, meski tantangan tetap ada.
Dolar AS menguat saat pasar menanti dampak shutdown pemerintah AS dan keputusan suku bunga The Fed.
Harga Bitcoin dan aset kripto lainnya turun setelah The Fed memangkas suku bunga, memicu kehati-hatian investor terkait pelemahan ekonomi AS.