Bursa saham AS koreksi dua sesi beruntun, pasar harapkan gencatan senjata
Bursa saham AS terkoreksi dua hari berturut-turut meski ada harapan dari pembukaan Selat Hormuz. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 turun 0,3%.
Bursa saham AS terkoreksi dua hari berturut-turut meski ada harapan dari pembukaan Selat Hormuz. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 turun 0,3%.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan 3,5%-3,75% pada Maret 2026, meski ada ketidakpastian ekonomi akibat konflik Timur Tengah dan inflasi tinggi.
IHSG diprediksi turun ke 6.500 pekan depan akibat harga minyak tinggi dan defisit APBN. Pelaku pasar harus waspada jika level 7.000 ditembus.
IHSG tertekan 15,14% YtD akibat ketegangan AS-Iran dan harga minyak tinggi. Peluang rebound ada, namun terbatas. Analis sarankan strategi defensif.
Perang Iran vs AS-Israel memicu lonjakan harga minyak di atas $100/barel dan pasar saham global anjlok. Konflik ini dapat mengganggu pasokan minyak.
Pasar saham negara berkembang tertekan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan MSCI Emerging Markets turun lebih dari 10% dan mata uang melemah.
MEDC mendapat rekomendasi beli dari 20 sekuritas dengan target harga Rp2.095.
Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak, mendorong saham migas seperti MEDC, ENRG, dan ELSA naik. Investor disarankan fokus pada strategi trading momentum.
Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak, mendorong saham migas seperti ENRG, MEDC dan lainnya naik signifikan. Penguatan dolar AS juga berperan.
Bank Indonesia siap menjaga stabilitas rupiah di tengah konflik AS-Israel-Iran, dengan intervensi pasar dan kebijakan moneter untuk mengatasi dampak ekonomi.