Intip ramalan nasib rights issue kala pasar saham bergejolak
Rights issue tetap prospektif meski pasar saham fluktuatif, menawarkan fleksibilitas pendanaan tanpa menambah utang. Timing dan fundamental kuat penting bagi keberhasilan.
Rights issue tetap prospektif meski pasar saham fluktuatif, menawarkan fleksibilitas pendanaan tanpa menambah utang. Timing dan fundamental kuat penting bagi keberhasilan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas calon emiten yang mengantre masuk dalam kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Saham BNBR dan MEGA bersinar berkat aksi korporasi, dengan BNBR naik 76,86% dan MEGA naik 40,28% dalam sepekan. Aksi ini melibatkan rights issue dan pembagian saham bonus.
PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) berencana rights issue 6,1 miliar saham baru untuk modal kerja dan konversi hak tagih, dengan RUPSLB pada 2 April 2026.
Outlook negatif Moody’s untuk Indonesia menekan minat IPO dan rights issue, meningkatkan risiko pasar modal dan biaya pendanaan. IHSG sulit kembali ke level 9.000.
PT Asuransi Digital Bersama (YOII) berencana rights issue 684,94 juta saham baru pada 2026 untuk memperkuat modal kerja, menunggu persetujuan RUPSLB.
PT Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) membeli 2,27 miliar saham CBDK senilai Rp14,64 triliun, meningkatkan kepemilikan menjadi 85,95% untuk memperkuat bisnis.
Di tengah gelaran aksi rights issue, gerak saham INET, CBRE hingga GMFI terpantau beragam. Cek rekomendasinya.
IHSG diprediksi bullish, menguji level 8.500. Saham ELSA, INKP, dan MYOR jadi pilihan. Waspadai profit taking, konsolidasi di 8.350-8.450.
PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) berencana rights issue 48 miliar saham untuk memperkuat modal dan melunasi utang, dengan RUPSLB pada 18 Desember 2025.