Kode keras saham BBCA
Emiten perbankan raksasa milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengirim sinyal optimistis kepada para pelaku pasar di tengah tren koreksi sahamnya.
Emiten perbankan raksasa milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengirim sinyal optimistis kepada para pelaku pasar di tengah tren koreksi sahamnya.
BBCA mencatat laba bersih tumbuh 3,83% YoY di Q1/2026 menjadi Rp14,68 triliun. Kinerja diprediksi tetap positif meski saham tertekan oleh sentimen eksternal.
Sinyal kenaikan rasio dividen BBCA 2025 berpotensi jadi katalis positif saham, didukung kinerja stabil dan strategi pendanaan berbasis CASA yang kuat.
Investor asing borong saham BRI (BBRI) Rp224,57 miliar, sementara BCA (BBCA) dilepas Rp269,21 miliar pada perdagangan 20 Januari 2026.
Investor asing keluar dari saham BRI (BBRI) dengan penjualan bersih Rp1,7 triliun, sementara masuk ke Bank Mandiri (BMRI) dengan pembelian bersih Rp609,8 miliar.
Indeks Bisnis-27 naik 0,88% ke 556,31 pada 17/11/2025, didorong saham MAPI, BBCA, PGEO, dan TLKM. IHSG juga menguat 0,55% ke 8.416,88.
Tiga saham blue chip Indonesia, BBCA, TLKM, dan ICBP, masuk produk SDR di SGX, memperkuat konektivitas pasar modal ASEAN dan meningkatkan akses investor Singapura.
Direktur BCA Santoso membeli 100.000 saham BBCA untuk investasi, meningkatkan kepemilikannya menjadi 3,269 juta saham. Saham BBCA ditutup di Rp7.525.
BRI Danareksa rekomendasikan saham BBCA, TLKM, dan AADI di Oktober 2025, didukung kebijakan pemerintah dan stabilisasi harga komoditas.
IHSG menutup pekan ketiga September 2025 di rekor tertinggi 8.051,118, didorong lonjakan saham BRPT, DSSA, MLPT, dan TLKM.