Timur Tengah memanas, BI tutup ruang penurunan suku bunga jangka pendek
Bank Indonesia menahan penurunan suku bunga akibat konflik Timur Tengah yang memicu inflasi dan arus modal keluar, menjaga BI Rate di 4,75% untuk stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia menahan penurunan suku bunga akibat konflik Timur Tengah yang memicu inflasi dan arus modal keluar, menjaga BI Rate di 4,75% untuk stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 4,75% di RDG Maret 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pasar saham pekan ini diprediksi volatil dengan IHSG di rentang 8.200-8.400. Rekomendasi saham: SMGR, ARCI, BFIN, dan reksa dana XIPI.
Pada Januari 2026, BI melaporkan penurunan suku bunga kredit dan simpanan, dengan suku bunga kredit rata-rata 8,79% dan suku bunga simpanan berjangka turun di berbagai tenor.
Penurunan bunga kredit bank tertinggal dari BI Rate karena faktor struktural, biaya dana tinggi, dan persaingan antar bank, meski suku bunga simpanan turun.
Emiten properti seperti BSDE dan MTLA memanfaatkan stabilitas suku bunga & insentif PPN DTP untuk meningkatkan penjualan di tengah lesunya daya beli masyarakat.
BI menahan suku bunga di 4,75%, mendukung target kenaikan marketing sales Metropolitan Land (MTLA) 2026 dengan fokus pada segmen hunian dan insentif PPN DTP.
Sektor properti diprediksi stabil pada 2026 dengan suku bunga BI 4,75%.
Bank Indonesia diperkirakan masih akan memangkas suku bunga acuan beberapa kali hingga akhir 2026. Kapan saja prediksi waktunya?
Rupiah melemah ke Rp16.957 per dolar AS jelang pengumuman BI Rate. Ekonom prediksi BI tahan suku bunga di 4,75% untuk stabilkan nilai tukar dan inflasi.