BI beli SBN pemerintah senilai Rp86,16 triliun sampai 16 Maret 2026
Bank Indonesia membeli SBN pemerintah senilai Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026, sebagai sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia membeli SBN pemerintah senilai Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026, sebagai sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk stabilitas ekonomi.
Bank Indonesia menahan penurunan suku bunga akibat konflik Timur Tengah yang memicu inflasi dan arus modal keluar, menjaga BI Rate di 4,75% untuk stabilitas ekonomi.
IHSG mengalami penurunan 7,89% ke level 7.585,68 dan kapitalisasi pasar Bursa turun Rp1.160 triliun menjadi Rp13.627 triliun dalam sepekan.
RNTH Bursa melonjak 25,35% sepekan, meski IHSG turun 0,44% ke 8.235,48. Kapitalisasi pasar turun 1,03% jadi Rp14.787 triliun. Transaksi harian naik 25,35%.
BI dan Kemenkeu sepakat melakukan debt switch senilai Rp173,4 triliun untuk APBN 2026, bertujuan menjaga stabilitas yield SBN meski beban utang meningkat.
Pemerintah dan BI lakukan debt switch Rp173,4 triliun di 2026 untuk stabilkan yield SBN, namun risiko ketergantungan bisa turunkan kepercayaan investor.
Kemenkeu dan BI sepakat lakukan debt switch Rp173,4 triliun pada 2026 untuk stabilkan yield SBN dan kurangi penerbitan utang baru, menjaga stabilitas pasar.
Bank Indonesia dan Kemenkeu sepakat melanjutkan debt switching SBN senilai Rp174 triliun tahun ini, tanpa istilah burden sharing, untuk mendukung kebijakan fiskal dan moneter.
Kemenkeu targetkan penerbitan SBN Ritel 2026 Rp150-170 triliun dengan strategi fleksibel, siap tambah kuota jika permintaan tinggi, dorong edukasi keuangan.
Ekspansi fiskal 2025 dinilai menekan kebijakan moneter BI, memicu ketegangan dengan Menkeu Purbaya. BI harus menjaga stabilitas meski fiskal ‘reckless’.