Sinyal kenaikan rasio dividen 2025, jadi katalis gerak saham BBCA
Sinyal kenaikan rasio dividen BBCA 2025 berpotensi jadi katalis positif saham, didukung kinerja stabil dan strategi pendanaan berbasis CASA yang kuat.
Sinyal kenaikan rasio dividen BBCA 2025 berpotensi jadi katalis positif saham, didukung kinerja stabil dan strategi pendanaan berbasis CASA yang kuat.
Investor asing borong saham BRI (BBRI) Rp224,57 miliar, sementara BCA (BBCA) dilepas Rp269,21 miliar pada perdagangan 20 Januari 2026.
Investor asing keluar dari saham BRI (BBRI) dengan penjualan bersih Rp1,7 triliun, sementara masuk ke Bank Mandiri (BMRI) dengan pembelian bersih Rp609,8 miliar.
Indeks Bisnis-27 naik 0,88% ke 556,31 pada 17/11/2025, didorong saham MAPI, BBCA, PGEO, dan TLKM. IHSG juga menguat 0,55% ke 8.416,88.
Tiga saham blue chip Indonesia, BBCA, TLKM, dan ICBP, masuk produk SDR di SGX, memperkuat konektivitas pasar modal ASEAN dan meningkatkan akses investor Singapura.
Direktur BCA Santoso membeli 100.000 saham BBCA untuk investasi, meningkatkan kepemilikannya menjadi 3,269 juta saham. Saham BBCA ditutup di Rp7.525.
BRI Danareksa rekomendasikan saham BBCA, TLKM, dan AADI di Oktober 2025, didukung kebijakan pemerintah dan stabilisasi harga komoditas.
IHSG menutup pekan ketiga September 2025 di rekor tertinggi 8.051,118, didorong lonjakan saham BRPT, DSSA, MLPT, dan TLKM.
Sepanjang 2025, asing jual bersih BBCA Rp23,3 triliun & BMRI Rp13,2 triliun Namun, potensi inflow asing diprediksi kembali menopang kinerja duo bank jumbo ini.
Saham BBCA diprediksi rebound ke Rp9.200 meski saat ini stabil di Rp8.000. Investor disarankan buy on weakness dengan target jangka pendek Rp8.300-Rp8.500.