Nasib saham blue chip kala net buy asing Rp30 triliun semester II/2025
Saham blue chip kalah performa Ifonti.com buy asing Rp30 triliun di semester II/2025, dengan LQ45 tumbuh 3,25% ytd, di bawah IHSG yang naik 21,61% ytd.
Saham blue chip kalah performa Ifonti.com buy asing Rp30 triliun di semester II/2025, dengan LQ45 tumbuh 3,25% ytd, di bawah IHSG yang naik 21,61% ytd.
IDX SMC Liquid unggul di 2025 dengan kenaikan 15,58%, mengalahkan big caps. Prospek 2026 tetap atraktif, fokus pada sektor sensitif pelonggaran moneter.
Saham lapis kedua seperti INET hingga CBRE telah mengalami penguatan signifikan, berpeluang menopang IHSG hingga akhir tahun ini.
Saham FUTR melonjak 25% ke Rp500 setelah akuisisi oleh Ardhantara, didorong proyek geothermal di Gunung Slamet dan rencana ekspansi energi bersih.
Saham lapis dua IDXSMC-LIQ, seperti MEDC dan PTRO, mengungguli bluechip dengan potensi pertumbuhan tinggi. Rekomendasi beli MEDC, PTRO, dan HRUM.
JP Morgan memprediksi saham lapis utama akan rebound pada 2026, sementara saham konglomerat naik karena masuk indeks internasional. Pertumbuhan laba diperkirakan pulih 5%-10% tahun depan, didorong belanja pemerintah.
IHSG naik 1,91% ke 7.750, dipicu meredanya geopolitik dan data inflasi AS. Saham blue chip BMRI, BBCA, dan lapis dua PPRE, DKHH pun memanas.
Saham lapis dua seperti ANTM, PGEO, dan SSIA menjadi penopang IDX SMC Liquid berkat hilirisasi dan transisi energi. Potensi penguatan masih ada meski volatilitas tinggi.
Saham lapis kedua IDX SMC Liquid menguat 0,24% ke 317,84 pada 5/8/2025. Saham PGAS, INKP, MEDC, dan lainnya dinilai murah dengan PER di bawah 10 dan PBV di bawah 1.