Konflik Iran kian membara, pasar saham AS Nasdaq hingga Dow Jones merana
Konflik Iran memicu aksi jual di bursa saham AS, dengan S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones melemah akibat lonjakan harga minyak dan volatilitas ekonomi global.
Konflik Iran memicu aksi jual di bursa saham AS, dengan S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones melemah akibat lonjakan harga minyak dan volatilitas ekonomi global.
Pasar saham berpotensi bergejolak jelang aturan free float 15% oleh OJK, memicu tekanan jual pada emiten dengan likuiditas rendah.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan 3,5%-3,75% pada Maret 2026, meski ada ketidakpastian ekonomi akibat konflik Timur Tengah dan inflasi tinggi.
Menjelang Idul Fitri 1447 H, IHSG berpotensi menghadirkan peluang sektoral, bukan reli menyeluruh. Stimulus konsumsi besar, namun pasar rapuh dan likuiditas menipis. Investor harus selektif dan fokus pada fundamental emiten.
Rights issue tetap prospektif meski pasar saham fluktuatif, menawarkan fleksibilitas pendanaan tanpa menambah utang. Timing dan fundamental kuat penting bagi keberhasilan.
Perang Iran-AS memicu gejolak pasar saham, literasi investasi penting. Ajaib Sekuritas tekankan edukasi investor untuk pahami risiko dan stabilitas ekonomi.
Kemenkeu menyatakan tekanan pasar obligasi Indonesia akibat faktor eksternal, namun kinerja SBN tetap baik. Spread SBN-UST rendah, menunjukkan kepercayaan investor.
Misbakhun mempertanyakan esensi Papan Pemantauan Khusus di pasar saham, menyoroti spekulasi dan urgensi regulasi. Papan ini memantau saham dengan kriteria khusus.
IHSG tertekan 15,14% YtD akibat ketegangan AS-Iran dan harga minyak tinggi. Peluang rebound ada, namun terbatas. Analis sarankan strategi defensif.
Perang Iran vs AS-Israel memicu lonjakan harga minyak di atas $100/barel dan pasar saham global anjlok. Konflik ini dapat mengganggu pasokan minyak.