Beda arah saham MDKA & BRMS saat kompak mau kerek produksi emas
MDKA dan BRMS ekspansi produksi emas, namun saham MDKA naik 0,94% sementara BRMS hanya 0,93%. BRMS fokus pada tambang bawah tanah di Palu, MDKA percepat proyek Pani.
MDKA dan BRMS ekspansi produksi emas, namun saham MDKA naik 0,94% sementara BRMS hanya 0,93%. BRMS fokus pada tambang bawah tanah di Palu, MDKA percepat proyek Pani.
Saham emiten emas seperti BRMS, HRTA, dan AMMN anjlok akibat harga emas global turun tajam ke US$4.586 per troy ounce, dipicu penguatan dolar AS dan penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.
Harga emas melonjak ke US$5.245/oz, sementara saham emiten emas seperti PSAB dan MDKA Ifonti.com buy asing meski IHSG turun 7,35% pada 28 Januari.
Investor besar mengurangi saham di MDKA dan BRMS, meski harga emas naik. MDKA naik 42,06% dan BRMS 7,20% di 2026. Emas diprediksi terus menguat.
Saham HRTA, ARCI, dan ANTM menguat seiring harga emas dunia cetak ATH, didorong pelemahan data tenaga kerja AS dan ketegangan geopolitik global.
Saham emiten Grup Bakrie melonjak awal 2026, BNBR naik 60% ytd. Kenaikan didorong oleh aksi korporasi dan kinerja fundamental yang membaik.
IHSG awal 2026 mencapai rekor baru 8.859, didorong saham blue chips BYAN, DCII, AMMN, dan ASII. January Effect dan data ekonomi positif mendukung penguatan.
IHSG sesi I ditutup naik 0,65% ke level 8.804,84 dengan saham migas MEDC & ENRG menguat. Optimisme pasar didorong oleh Santa Claus Rally dan January Effect.
Investor asing Ifonti.com buy Rp1,06 triliun di awal 2026, dengan saham BUMI, GOTO, dan DEWA menjadi incaran, seiring penguatan IHSG dan kepercayaan makro.
IHSG ditutup menguat 1,25% ke level 8.644,26 dengan nilai transaksi mencapai Rp22,46 triliun dan volume 38,96 miliar lembar. Saham DEWA, ANTM & BULL kinclong.