Calon emiten IPO wait and see tunggu kondisi pasar lebih stabil
Calon emiten IPO di Indonesia menunda aksi karena kondisi pasar yang tidak stabil dan regulasi ketat. Hingga Februari 2026, belum ada IPO baru di BEI.
Calon emiten IPO di Indonesia menunda aksi karena kondisi pasar yang tidak stabil dan regulasi ketat. Hingga Februari 2026, belum ada IPO baru di BEI.
Batavia Prosperindo International (BPII) menerima dividen Rp28,72 miliar dari anak usaha untuk tahun buku 2025, memperkuat posisi keuangan awal 2026.
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah 0,46% ke 551,03, namun saham INKP, MYOR, dan BMRI tetap menguat. Pasar cenderung wait and see jelang perundingan AS-Iran.
Sepinya IPO di Indonesia pada awal 2026 membuat calon emiten mempertimbangkan bursa luar negeri seperti Hong Kong dan AS. Likuiditas ketat dan aksi jual investor asing menjadi tantangan utama.
DJP blokir saham dua penunggak pajak senilai Rp2,6 miliar di BEI sesuai aturan baru, menunggu proses rekening penampungan untuk eksekusi lebih lanjut.
Pasar saham Indonesia diuji dengan kebijakan peningkatan free float dari 7,5% ke 15%.
IHSG naik 0,72% pekan ini, namun saham HILL, SGRO, dan LINK masuk daftar top losers dengan penurunan signifikan.
S&P Dow Jones memantau reformasi pasar saham Indonesia dan melanjutkan rebalancing Maret 2026, meski MSCI dan FTSE Russell menunda tinjauan karena kekhawatiran transparansi.
S&P akan melanjutkan rebalancing saham Indonesia pada Maret 2026, berbeda dengan MSCI dan FTSE Russell yang menangguhkan peninjauan karena isu transparansi.
Absennya IPO BUMN pada 2026 dinilai tidak akan mengganggu likuiditas pasar modal, seiring dengan fokus bursa pada penguatan struktur kedalaman pasar.