Aksi IPO Diproyeksi Lebih Semarak 2026 Walau Volitilitas Tetap Tinggi
IPO di Indonesia diprediksi lebih semarak pada 2026 meski volatilitas tinggi. Fokus pada kualitas emiten dan kondisi pasar global jadi kunci.
IPO di Indonesia diprediksi lebih semarak pada 2026 meski volatilitas tinggi. Fokus pada kualitas emiten dan kondisi pasar global jadi kunci.
Modal asing sebesar Rp240 miliar masuk ke Indonesia pada 15-18 Desember 2025, dengan pembelian di pasar saham dan SRBI, meski ada penjualan di SBN.
IHSG dibuka menguat 0,66% ke 8.713 pada 10 Desember 2025, didorong oleh saham BBCA, BRPT, dan BMRI. IHSG diprediksi bergerak di 8.600-8.750.
Pasar saham Indonesia diproyeksikan cerah pada 2026, saham batu bara dan perbankan menarik bagi pemburu dividen.
BEI dan OJK mengkaji peningkatan free float saham dari 7,5% menjadi 10% untuk memperdalam pasar. Kenaikan ini butuh dana Rp21 triliun, sementara 15% butuh Rp203 triliun.
IHSG diproyeksikan tetap menguat jelang penutupan 2025, didorong oleh window dressing, sentimen global, serta ekspektasi suku bunga The Fed.
IHSG mencapai rekor tertinggi di akhir 2025 berkat dukungan investor domestik meski Ifonti.com sell asing. Stimulus pemerintah dan likuiditas lokal jadi pendorong utama.
Investor asing mengalirkan dana Rp3,9 triliun ke pasar saham Indonesia, dengan saham BMRI dan BBCA menjadi incaran utama. IHSG naik 0,52% pekan ini.
Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menaikkan minimum free float saham menjadi 10% untuk meningkatkan likuiditas pasar.
OJK berencana menaikkan aturan free float saham di BEI dari 7,5% menjadi 25% secara bertahap hingga 2026, untuk menarik lebih banyak investor global.