BEI kantongi 7 calon emiten di pipeline IPO, mayoritas punya aset skala jumbo
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas calon emiten yang mengantre masuk dalam kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas calon emiten yang mengantre masuk dalam kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Sepinya IPO di Indonesia pada awal 2026 membuat calon emiten mempertimbangkan bursa luar negeri seperti Hong Kong dan AS. Likuiditas ketat dan aksi jual investor asing menjadi tantangan utama.
Delapan perusahaan antre IPO di BEI, lima di antaranya aset besar, dari sektor seperti basic materials, finansial, dan energi. Hingga kini, belum ada IPO baru.
Enam perusahaan besar siap IPO di BEI akhir tahun 2025, berasal dari sektor material, energi, finansial, teknologi, dan transportasi. Total 9 perusahaan dalam pipeline.
Sektor konsumer dan properti absen dari pipeline IPO akhir 2025, sementara sektor finansial mendominasi. BEI mencatat 26 perusahaan baru dengan total dana Rp18,11 triliun.
Saham blue chip perbankan diprediksi pulih di 2026 dengan pelonggaran moneter, meski 2025 melemah. Rotasi sektor ke finansial bisa dorong IHSG.
Saham bank diprediksi menopang IHSG 2026 dengan rotasi sektor dari komoditas ke finansial, didukung suku bunga rendah dan potensi pemulihan earnings.
Saham perbankan melemah meski suku bunga turun, namun ada peluang reversal di 2026. Saham BBCA, BBRI, dan BMRI turun, sementara BBNI naik tipis.
BEI mencatat 8 perusahaan besar antre IPO, termasuk Superbank, menyusul emiten baru seperti CDIA dan RATU.
Saham bank Himbara naik setelah 84% dana injeksi pemerintah Rp200 triliun terealisasi, menurunkan CoF dan mendorong pertumbuhan kredit hingga 10% YoY akhir 2025.