Lo Kheng Hong borong lagi saham GJTL Maret 2026
Lo Kheng Hong tambah 350.000 saham GJTL Maret 2026, kini pegang 6,03%. GJTL dinilai murah meski penjualan turun, prospek 2026 tetap optimis.
Lo Kheng Hong tambah 350.000 saham GJTL Maret 2026, kini pegang 6,03%. GJTL dinilai murah meski penjualan turun, prospek 2026 tetap optimis.
Menjelang musim dividen 2026, rotasi sektoral ke emiten tambang dan perbankan yang rutin membagikan dividen menjadi opsi menarik bagi investor.
Saham BUMN di bawah Danantara menarik untuk investasi jangka panjang karena potensi kenaikan valuasi dan dividen yang optimal.
Pertemuan BEI dan MSCI sinyalkan perbaikan pasar saham Indonesia, menarik minat investor global dengan reformasi struktural dan peningkatan transparansi.
Wall Street menguat dengan S&P 500 cetak rekor berkat saham AI. Saham Nvidia, Microsoft, dan Amazon naik, sementara sektor material memimpin kenaikan.
Saham pelayaran seperti SMDR dan PJHB melonjak awal 2026, namun kini terkoreksi. Prospek tetap ada, tetapi volatilitas dan biaya operasional jadi tantangan.
Investor asing tertarik ke pasar saham Indonesia pada 2026 karena stabilitas ekonomi, valuasi menarik, dan potensi pemangkasan suku bunga.
Pada 2026, BEI menargetkan 50 IPO baru dengan minat investor tinggi. Meski saham IPO 2025 mencatat kenaikan signifikan, seleksi fundamental tetap penting.
Saham konglomerat naik di 2025, namun di 2026 investor harus selektif dan fokus pada fundamental. Rebalancing disarankan jika valuasi saham terlalu tinggi.
Pada 2025, investor asing banyak menjual saham bank besar Indonesia seperti BBCA dan BMRI. Namun, pada 2026, diprediksi aliran dana asing akan kembali ke saham-saham ini karena suku bunga global yang lebih rendah dan prospek ekonomi yang membaik.