IHSG ditutup anjlok 3,38% akhir pekan, cek deretan penyebabnya
IHSG turun 3,38% pada 24 April 2026 karena sentimen global dan aksi profit taking. Saham BBCA, BUMI, dan lainnya melemah. IHSG dalam fase konsolidasi.
IHSG turun 3,38% pada 24 April 2026 karena sentimen global dan aksi profit taking. Saham BBCA, BUMI, dan lainnya melemah. IHSG dalam fase konsolidasi.
IHSG naik 0,89% ke 8.285 pada sesi I, saham konglomerat seperti RATU, BUMI, dan CDIA menguat. Investor menanti risalah FOMC dan perjanjian dagang RI-AS.
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menyelesaikan buyback saham senilai Rp950 miliar lebih cepat dari jadwal, menyerap 4,03% saham beredar.
MSCI akan mengumumkan rebalancing indeks pada 10 Februari 2026. BUMI dan PANI diprediksi masuk MSCI Global Standard, sementara 9 saham lain masuk Small Cap.
Saham emiten Grup Bakrie melonjak awal 2026, BNBR naik 60% ytd. Kenaikan didorong oleh aksi korporasi dan kinerja fundamental yang membaik.
Andhesti Tungkas Pratama menjual 400 juta saham DEWA senilai Rp232,4 miliar pada 31 Desember 2025 untuk divestasi, mengurangi kepemilikan dari 9,35% menjadi 8,37%.
IHSG awal 2026 mencapai rekor baru 8.859, didorong saham blue chips BYAN, DCII, AMMN, dan ASII. January Effect dan data ekonomi positif mendukung penguatan.
Investor asing Ifonti.com buy Rp1,06 triliun di awal 2026, dengan saham BUMI, GOTO, dan DEWA menjadi incaran, seiring penguatan IHSG dan kepercayaan makro.
IHSG ditutup menguat 1,25% ke level 8.644,26 dengan nilai transaksi mencapai Rp22,46 triliun dan volume 38,96 miliar lembar. Saham DEWA, ANTM & BULL kinclong.
Saham konglomerat seperti BUMI dan BRMS masih prospektif di 2026, meski valuasi tinggi. Momentum didorong narasi akuisisi dan rotasi komoditas.