IHSG terkoreksi 0,35%, saham BMRI dan BBRI cs menguat di tengah ekspektasi suku bunga
IHSG turun 0,35% ke 6.576,07, namun saham BMRI dan BBRI menguat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga BI akibat tekanan rupiah.
IHSG turun 0,35% ke 6.576,07, namun saham BMRI dan BBRI menguat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga BI akibat tekanan rupiah.
IHSG turun 0,87% ke 6.858,89 pada 12 Mei 2026, dipicu koreksi saham BREN, BYAN, dan ASII. Kapitalisasi pasar mencapai Rp12.171 triliun.
IHSG turun 4,63% sepekan, saham MORA, BBRI, dan BBCA jadi top leaders, sementara AMMN dan DSSA jadi top laggards.
Saham BREN dan BYAN menjadi penekan utama IHSG dengan koreksi masing-masing 13,12% dan 13,59%, menekan indeks sebesar 26,78 dan 26,67 poin.
IHSG naik 0,72% berkat saham AMMN, MDKA, BBRI. Kapitalisasi pasar BEI naik 0,35%, transaksi harian meningkat 11,99%, dan investor asing Ifonti.com buy Rp2,07 triliun.
IHSG diprediksi menguat pada hari puasa pertama, 19 Februari 2026, dengan rekomendasi saham BUVA, COIN, INET, dan PANI untuk strategi “Buy on Weakness”.
Saham DSSA, DCII, dan BRPT jadi pendorong utama IHSG 2025, mencetak rekor baru dengan kontribusi signifikan dari kenaikan harga saham sepanjang tahun.
CBRE memimpin daftar saham top gainers 2025 dengan kenaikan 5.136,84%, diikuti COIN dan BUVA. Kenaikan ini didorong oleh investasi dan strategi bisnis.
Saham konglomerat seperti BUMI dan BRMS masih prospektif di 2026, meski valuasi tinggi. Momentum didorong narasi akuisisi dan rotasi komoditas.
Saham konglomerat seperti DCII, MORA, dan BUMI memimpin IHSG 2025. Meski valuasi premium, prospek 2026 masih dipertanyakan karena gap fundamental.