BEI kantongi 7 calon emiten di pipeline IPO, mayoritas punya aset skala jumbo
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas calon emiten yang mengantre masuk dalam kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas calon emiten yang mengantre masuk dalam kategori aset skala besar atau di atas Rp250 miliar.
Sektor energi mendominasi jajaran top leaders di tengah penguapan kapitalisasi pasar bursa senilai Rp1.160 triliun sepanjang perdagangan 2 – 6 Maret 2026.
IHSG tertekan akibat sentimen negatif AS, investor ritel disarankan berhati-hati menghadapi volatilitas pasar dan mempertimbangkan strategi wait and see.
Ketegangan AS-Israel vs Iran dorong saham migas AKRA, ELSA, ENRG naik, meski IHSG turun 1,82%. Sektor energi dan logam mulia jadi defensif utama.
Delapan perusahaan antre IPO di BEI, lima di antaranya aset besar, dari sektor seperti basic materials, finansial, dan energi. Hingga kini, belum ada IPO baru.
Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%, membuka peluang sektor saham konsumsi, ekspor, dan energi untuk cuan di tengah volatilitas pasar.
Berkshire Hathaway memangkas saham Amazon dan Apple, beralih ke media, energi, dan asuransi dengan investasi besar di New York Times, Chevron, dan Chubb.
IHSG diprediksi konsolidasi di level 8.850-9.100. Saham PGEO, AKRA, dan MEDC direkomendasikan analis. Rupiah menguat, emas naik, ketegangan geopolitik meningkat.
Prospek reksa dana saham 2026 didorong dividen dan perbaikan kinerja emiten, meski IHSG tinggi. Panin Asset Management targetkan AUM Rp17 triliun.
Reksa dana saham diproyeksikan tumbuh 7%-9% tahun ini, didorong sektor energi dan komoditas.