IHSG ditutup merosot ke 7.022, saham AMMN, DSSA dan BREN kompak merah
IHSG turun 1,61% ke 7.022,28 pada 16 Maret 2026, dipicu penurunan saham big caps seperti AMMN, DSSA, dan BREN. Market cap mencapai Rp12.439 triliun.
IHSG turun 1,61% ke 7.022,28 pada 16 Maret 2026, dipicu penurunan saham big caps seperti AMMN, DSSA, dan BREN. Market cap mencapai Rp12.439 triliun.
IHSG sesi I turun 3,49% pada 9 Maret 2026, dipicu sentimen negatif global dan domestik, menyebabkan saham konglomerat Indonesia melemah. Fitch Ratings revisi outlook utang Indonesia jadi negatif.
IHSG naik tipis ke 8.322,91 didorong saham AMMN, PANI, BMRI. Saham big caps menguat, sementara TLKM dan DSSA melemah. Proyeksi IHSG konsolidasi.
Sejumlah saham diproyeksi jadi incaran pasar seiring OJK dan BEI menaikkan kewajiban free float menjadi 15% secara bertahap.
Saham milik konglomerat seperti BRPT hingga RATU menjadi top laggards IHSG 2026 akibat valuasi premium dan aksi profit taking, di tengah rotasi sektor energi.
Saham blue chip kalah performa Ifonti.com buy asing Rp30 triliun di semester II/2025, dengan LQ45 tumbuh 3,25% ytd, di bawah IHSG yang naik 21,61% ytd.
IHSG menguat 0,65% ke 8.604,59 pada sesi I, didorong saham Prajogo Pangestu dan saham berkapitalisasi besar, meski bursa global melemah.
Erwin Ciputra, Direktur Utama Chandra Asri Pacific (TPIA), membeli 200.000 saham TPIA senilai Rp1,44 miliar untuk investasi langsung.
IHSG cetak rekor baru di 8.312,57, didorong saham perbankan dan milik Prajogo. Saham ASII, BBNI, BMRI, BBRI, dan BREN berkontribusi signifikan.
IHSG sesi I naik 0,53% ke 8.182,63, didorong saham Prajogo Pangestu. Saham CUAN, CDIA, dan MLPT memimpin penguatan. Optimisme didukung faktor domestik dan global.