Menakar peluang IHSG kembali ke level 9.000
IHSG berpotensi rebound ke 9.000 pada akhir 2026 jika ketegangan geopolitik mereda, kebijakan fiskal stabil, dan reformasi pasar diterima positif oleh MSCI.
IHSG berpotensi rebound ke 9.000 pada akhir 2026 jika ketegangan geopolitik mereda, kebijakan fiskal stabil, dan reformasi pasar diterima positif oleh MSCI.
Konflik AS-Iran memicu pelemahan rupiah ke Rp17.015/USD dan IHSG jatuh 5%, didorong oleh lonjakan harga minyak dan sentimen risiko global.
Pasar saham negara berkembang tertekan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan MSCI Emerging Markets turun lebih dari 10% dan mata uang melemah.
Eskalasi geopolitik di Selat Hormuz memicu pelarian modal ke aset aman seiring proyeksi lonjakan harga emas sebagai instrumen lindung nilai utama.
Harga emas turun tipis di tengah libur Asia dan fokus pada kebijakan suku bunga The Fed. Pasar memantau ketegangan geopolitik dan perundingan nuklir AS-Iran.
Harga emas di pasar spot stabil setelah mencatatkan lonjakan 2%. Pelaku pasar mencermati kebijakan The Fed dan negosiasi AS-Iran.
Saham milik konglomerat seperti BRPT hingga RATU menjadi top laggards IHSG 2026 akibat valuasi premium dan aksi profit taking, di tengah rotasi sektor energi.
Saham HRTA, ARCI, dan ANTM menguat seiring harga emas dunia cetak ATH, didorong pelemahan data tenaga kerja AS dan ketegangan geopolitik global.
IHSG mencapai rekor tertinggi baru di 8.946,70 dengan saham ADRO, TINS, dan BBRI naik. Waspadai aksi profit taking dan geopolitik.
IHSG diprediksi melemah akibat ketegangan AS-Venezuela. Investor disarankan memantau saham PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA.